Kata emak saya, saya adalah anaknya yang paling tampan seantero jagat raya. waktu kecil enggak tahu emak ngidam apa. Ketika saya pups (buang air) dicelana emak bilang, “Aduuh.. anak raja Buang air”. Anak raja? Berarti saya pengeran donk.. ya pangeran tampan yang keluar dari rahimnya. (Hahai, narcism is not a crime right).
Teringat ketika jalan sama teman-teman sepulang kuliah dan mencoba mampir yang katanya tempat tongkrongan anak-anak gaul, Seven Eleven namanya. Diantara mereka banyak yang cuma “Geluduk mau Ujan” (Cuma duduk gak jajan-jajan) doank, dan salah seorang cewek manis di kelas, mencoba menghampiri.
“Kenapa kamu com? Bengong aja kayak ayam sakit. Ngiri ngeliat yang pada punya pasangan ya? Betah banget nge-jomblo, Cewek seperti apa sih tipe kamu. Udah sih sama aku aja kenapa?” Dewi merayu.
Maklum lah penyandang predikat HQJ (high quality jomblo) memang enggak gampang, alias banyak godaannya. (haha lagi-lagi narsis)
“ aku nyari yang terbaik diantara yang baik wi..” jawab saya yakin.
“ Ya itu aku banget com, aku kan cewek baik”. Dewi kembali merayu.
“ Iya kamu emang baik wi, Tapi aku cari cewek yang baik-baik…” haha
“ Awaaas lu cooom…!” tiba-tiba muka Dewi memerah dan keluar tanduk dari kepalanya, seperti di film Hell Boy..hihi lebay.com.
Hadeehhhh... kalo liat foto ini no komeng ah.. hiihii ketipu ya maaas..
Melihat berita-berita di televisi, sangat mengenaskan ketika melihat peristiwa sekarang, yang dengan mudahnya menikah dan dengan mudahnya bercerai, seperti artis-artis dan binatang film di Tv, ada yang dengan mudahnya gonta-ganti Spare part, ha pernikahan yang sakral seperti barang dagangan.
Ada seorang artis yang dengan bangganya dia bilang “ Anak saya ketiga-tiganya tidak ada yang mirip loh, saya nikah empat kali, dari suami yang pertama sih gak dapet anak, dan ketiga anak saya ini dari suami kedua, ketiga dan keempat, jadi gak ada yang sama bapaknya…” tutur si artis. Padahal dia masih muda dan sebentar lagi mungkin mendapat rekor muri dengan katagori koleksi suami terbanyak.haha
Haruskah pernikahan dilelang hanya untuk memuaskan hasrat biologis, lalu setelah bosan maka di tinggalkan begitu saja seperti habis manis sepah di buang?
Haruskah pernikahan dilelang untuk saling menyakiti dan menunjukan siapa yang lebih berkuasa dalam rumah tangga?
Haruskah pernikahan dilelang demi prestise semata dengan pesta yang teramat meriah sementara, pernikahan hanya seumur jagung dan tanpa makna?
Haruskah pernikahan dilelang karena kita takut dibilang “ngga laku”, “Perawan tua”, dan lain sebagainya? Sehingga karena ketakutan-ketakutan semacam itu membuat kita jadi asal pilih, asal nikah biar ngga ada lagi yang meledek?
Haruskah pernikahan dilelang tanpa persiapan, pemahaman agama, komitmen dan konsep yang jelas, tentang segala hal dalam rumah tangga?
Haruskah pernikahan dilelang tanpa melibatkan Allah dalam setiap doa kita untuk mendapatkan jodoh yang terbaik menurut pandangan Allah? Karena yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik dalam pandangan Allah.
Seperti yang ditulis Al-Imam Fakhruddin Ar-Razi yang saya kutip dari buku “Wawasan Al-Qur’an” Bab Pernikahan Karya Dr.M. Quraish Shihab,
“Keberhasilah Perkawinan tidak tercapai kecuali jika kedua belah pihak memerhatikan hak pihak lain. Tentu saja hal tersebut banyak, antara lain adalah bahwa suami bagaikan pemerintah, dan dalam kedudukannya seperti itu dia wajib untuk memperhatikan hak dan kewajiban rakyatnya (istrinya). Istri pun berkewajiban untuk mendengar dan mengikutinya, tetapi disisi lain perempuan mempunyai hak terhadap suaminya untuk mencari yang terbaik ketika melakukan diskusi.”
Selain itu pula, Abdul Halim Abu Syuqqah dalam bukunya “Kebebasan Wanita” mendeskripsikan keadaan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan dengan amat indahnya:
“Laki-laki adalah benteng keamanan yang dapat dipercaya, yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang, yaitu tempat si wanita (istri) mencari ketenangan dan ketentraman. Dan wanita adalah lahan subur yang sejuk dan rindang, yang penuh dengan rasa cinta dan kasih sayang, yaitu tempat si laki-laki (suami) mencari ketenangan dan ketentraman.
Sesungguhnya kebesaran laki-laki tampak dalam persahabatannya dengan wanita (istri) yang saleh, hingga ia berhasil dalam kerjanya, dan berjuang keras untuk menjunjung tinggi bangsanya dan membangun umatnya.
Dan kebesaran wanita hanya muncul dan bersinar dalam persahabatannya dengan suami yang saleh, sehingga ia menjadi matahari yang menyinari, merpati yang mengepakan sayap, bunga yang harum semerbak, dan tempat tinggal yang menyenangkan”.
Yoook dilelang...2000 pertama...haha
Benang ditenun dari kapas,
kapas nanti menjadi kain..
Barang yang sudah dapat jangan dilepas,
kalau dilepas milik orang lain..
yihaaa boleeeh kakaaa..
biasakan setelah baca di komeng yaaa... di follow wajib hukumnya..hiihii makasih sudah mampir di marii..








2 comments:
Masya Allah.... Like this
Terimakasih nita...
Post a Comment