Sebagian penyair mungkin menggambarkan suasana pagi dengan gambaran tetesan embun-embun yang segar dipucuk dahan, mentari yang malu-malu manampakan sinarnya, atau dengan nyanyian burung-burung gereja yang riang becanda. Tapi berbeda dengan suasanaku pagi ini, bukan karena melihat nenek-nenek sedang jogging, atau kakek-kakek lagi push-up, tapi ini lebih gila. Mungkin agak konyol, mungkin agak jorok, ya tapi memang begini keadaannya. Pagi ini aku berasa ketiban sekarung e'e embe alias pupuk tanaman dari kotoran si kambing
Mata yang masih sayup gara-gara nonton bola semalem, di paksa melek karena emak aku memanggil buat menyetop tukang oncom yang lewat didepan rumah. Jiah udah keren-keren pake bahasa aku, di suruh beli oncom, gak metal banget ya...?
“Oncooom berhentiii….!’ Teriakku kepada si tukang oncom, seperti Cinta yang menghentikan Rangga di Airport dalam film romantic remaja Ada Apa Dengan Cinta di Era 90-an, haha ga selebai itu juga sih…! Sekantong oncom dengan harga lima ribu rupiahpun aku bawa kedapur. Sambil meratapi ngantuknya mata yang tinggal 15 watt ini, seolah oncom ditanganku melambai-melambai dan berkata mersa, “Lihat nih gw, biar Cuma ampas, biar kata gw buluk, tapi masih ada harganya” oncom berusaha menasehatiku. Terbangun dari lamunanku sesaat, tiiiiinkk.. ternyata ia juga yah oncom saja yang buluk masih ada harganya, malah dia jadi primadona ibu-ibu desa dikala tingginya harga daging di pasar. Semur oncom didepan mata jadi terasa nikmat dari pada semur Daging dalam mimpi. Ya Seharusnya kita manusia bisa lebih berharga dan bermafaat dong dari si Oncom.
Si emak yang sedang asyik dengan tanamannya dan seperti biasa ritual orang tua jaman dulu, mereka berusaha berbincang dengan tanaman-tanamannya sekaligus menghilangkan stress gitu. "nih aye kasih pupuk, biar cepet gede, biar sehaat ya" kata emak. wah saking asiknya dengan e'e embe alias pupuknya sampai tukang oncom didepan rumah diabaikan. Lagi-lagi sekarang e’e embe melambaikan jemarinya yang lentik kearahku, ha bisa bayangin gak? Ya e'e embe walaupun ia cuma kotoran kambing, tapi masih bisa bermanfaat bagi tumbuhan, juga pengobat stress bagi para petani dan tentunya emak gw, tapi disinilah harga diri si Oncom di pertaruhkan dan dari sini semuanya dimulai.
Tiba-tiba dari dapur terdengar suara “Mulai saat ini "Aku si Oncom" walau pun aku cuma ampas sisa dari pembuatan Tempe dan Tahu, atau keturunan ke-3 dari kacang kedelai. mulai saat ini aku berjanji akan lebih baik dari e'e embe. Wahai e’e embe lihat esok ketika aku menjadi sepotong Pizza." dengan berapi-api oncom berjanji.
Si e’e embe Cuma bisa melihat keheranan dengan tingkah laku oncom, tapi sebagai seorang sahabat yang senasib sama-sama ampas, e’e embe memberi apresiasi dengan anggukan seolah meyakinkan persaingan diantara mereka. Dan sekali lagi inilah awal kisah persaingan untuk menjadi yang terbaik dan dari sini kisah itu di mulai.







1 comments:
bagus
Post a Comment